Patchtern

Setiappotongankainadalahsisadariceritasebelumnya

Patchtern menggabungkannya menjadi cerita baru

Apa itu Patchtern?

Patchtern adalah cara kami menyatukan potongan-potongan kain yang berbeda menjadi satu karya yang utuh dan bermakna. Bagi kami, namanya seakan menggambarkan dua hal sekaligus: patch, potongan yang tersisa, dan pattern, pola baru yang terbentuk ketika potongan-potongan itu disusun kembali.

Lebih dari sekadar teknik menjahit, Patchtern adalah cara pandang: mengambil sesuatu yang dianggap telah berakhir, lalu memberinya nilai, fungsi, dan cerita yang baru.

"Keindahan bisa muncul dari ketidaksempurnaan"

Makna Menyatukan Potongan

Setiap potongan kain dalam karya Patchtern memiliki asal-usulnya sendiri. Semuanya berasal dari sisa produksi di Rira Konveksi dan Rira Taylor, potongan-potongan kecil yang tersisa setiap hari, yang sering kali dianggap sebagai akhir dari sebuah proses.

Ketika kami menyatukan potongan-potongan ini, kami tidak hanya menciptakan pola baru, tetapi juga narasi baru. Setiap karya menjadi pertemuan dari berbagai cerita, warna, dan tekstur yang berbeda, namun harmonis.

Proses ini mengajarkan kami tentang kesabaran, kreativitas, dan bagaimana keindahan bisa muncul dari ketidaksempurnaan.

Patchtern & Isu Limbah Fashion

Industri fashion menyisakan limbah tekstil dalam jumlah yang besar. Sebagian di antaranya berasal dari proses produksi yang tampak biasa, seperti potongan kain yang tersisa setiap hari dan jarang diperhatikan.

Patchtern tidak hadir untuk menyelesaikan persoalan itu secara menyeluruh. Kami hanya memilih untuk tidak menutup mata pada apa yang tersisa di sekitar kami sendiri, menggunakannya kembali, memberinya kehidupan kedua, dan membentuknya menjadi sesuatu yang unik dan bermakna.

Ini adalah bentuk konsumsi yang lebih bertanggung jawab: menghargai material yang sudah ada, memperpanjang usia pakai kain, dan mengurangi kebutuhan akan produksi baru. Perubahan, kami percaya, bisa dimulai dari hal yang paling dekat.

Inspirasi Visual

Patchtern bagi kami bukan hanya tentang membuat sesuatu dari sisa, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk melihatnya. Dari yang dianggap akhir, kami melihat kemungkinan baru.